6 Rumah Adat Indonesia yang Hampir Punah nan Kaya Kearifan Lokal

[Klikindonews.com],  Indonesia memiliki 34 provinsi dan semuanya memiliki keunikan budayanya masing-masing. Salah satunya adalah rumah adat yang bentuknya juga berbeda-beda tiap pulaunya. 

Namun, keberadaan rumah adat semakin terpinggirkan, digantikan rumah berdinding beton yang bergaya modern atau mengambil inspirasi dari luar negeri. Rumah-rumah adat tersebut kini kebanyakan jadi lokasi museum atau tempat pamer sepi pengunjung.

Padahal, setiap rumah adat ini memiliki ciri khas, filosofi, dan sejarah yang menambah kekayaan budaya nusantara. Bila eksistensinya tak dipertahankan, kekayaan budaya yang dimiliki juga akan hilang.

Liputan6.com merangkum enam rumah tradisional di Indonesia yang keberadaannya makin langka, dilansir dari berbagai sumber, Kamis, 29 Agustus 2019.

Rumah Gadang

Rumah Gadang ini berasal dari Sumatera Barat dan berasal dari suku Minangkabau. Ciri khas dari rumah adat ini adalah bentuk atapnya yang menyerupai sepasang tanduk kerbau dan badannya yang berbentuk seperti kapal. Dulunya, rumah ini ditinggali oleh keluarga besar sehingga pada saat ada acara tertentu, rumah beralih fungsi menjadi tempat upacara atau pernikahan.

Sejarah dari Rumah Gadang ada beberapa versi, seperti asal muasal bentuk atap yang seperti tanduk kerbau karena menangnya orang Minang dalam peristiwa adu kerbau melawan orang Jawa. Sedangkan, bentuk rumah yang menyerupai kapal karena nenek moyang berlayar dan menarik kapalnya ke daratan agar tidak rusak terkena air laut, kemudian kapal tersebut berubah menjadi tempat tinggal dan diberi atap.

Terlepas dari kebenaran cerita yang ada, estetika rumah adat ini patut diacungi jempol. Motif-motif yang terukir di dindingnya semakin membuat indah rumah ini. Kata “gadang” dapat diartikan sebagai besar, ini bukan dilihat dari ukuran rumahnya, melainkan fungsinya yang penting dan berdampak besar.

Rumah Joglo

Berpindah ke Pulau Jawa, rumah adat ini dinamakan Joglo. Istilah nama ‘joglo’ diambil dari dua kata, yakni ‘tajug’ dan ‘loro’ yang berarti penggabungan dua tajug.

Bentuk atap pada rumah ini meruncing ke atas dan dikatakan mengacu pada bentuk gunung. Gunung bagi masyarakat Jawa merupakan simbol yang sakral karena diyakini sebagai tempat tinggal para dewa. Bahan dasar rumah ini umumnya dibuat dari kayu jati.

Bagian dari rumah ini ada tiga, yakni pendopo, pringgitan, dan dalem. Setiap bagian dari rumah ini juga memiliki nilai seperti pendopo menandakan karakter orang Jawa yang ramah dan menyambut siapa saja, pringgitan sebagai tempat memuja Dewi Sri, dan pertunjukan wayang serta bagian dalam sebagai tempat tinggal keluarga.

Rumah Kebaya

Rumah adat Kebaya adalah rumah tradisional yang berasal dari suku Betawi. Asal muasal disebut Rumah Kebaya karena bentuk atapnya yang terlihat mirip pelana yang dilipat.

Jika dilihat dari samping, bentuk tersebut terlihat mirip seperti lipatan kebaya, baju adat khas Betawi. Karakteristik utama dari rumah ini adalah terasnya yang luas dan berguna untuk menjamu tamu atau hanya sekadar tempat bersantai keluarga.

Rumah ini juga memiliki dua bagian, yakni ruang tamu dan teras digunakan sebagai tempat umum yang menandakan semua orang dapat masuk. Bagian satunya adalah bagian privat seperti kamar, dapur dan pekarangan belakang yang menandakan bahwa hanya pemilik rumah dan orang terdekat yang boleh menginjakkan kaki ke area ini.

Rumah Panjang

Bergeser ke Pulau Kalimantan, tepatnya Kalimantan Barat. Rumah ini dinamakan Rumah Panjang atau Rakdang. Rumah ini masih tergolong dalam rumah panggung karena tingginya yang bisa mencapai lima meter dari permukaan tanah. Sesuai dengan namanya, panjang rumah ini juga bisa mencapai lebih dari 100 meter dengan lebar 30 meter.

Filosofi rumah ini dapat dilihat dari bentuknya yang panjang, dimana rumah ini ditinggali oleh sekeluarga besar sehingga dapat memupuk rasa toleransi dan kebersamaan. Bagian depan rumah juga dibuat menghadap ke timur, arah terbitnya matahari dan bagian belakang menghadap barat. Hal ini menandakan bahwa orang Dayak adalah pekerja keras yang bekerja dari pagi hingga malam.

Rumah Tongkonan

Rumah adat yang satu ini berasal dari Pulau Sulawesi, yakni Tongkonan. Tongkonan sendiri memiliki arti tempat duduk, sesuai dengan fungsi awalnya yang memang sebagai tempat berkumpul para bangsawan Toraja untuk berdiskusi. Rumah Tongkonan terbuat dari kayu uru dan atapnya terbuat dari bambu.

Lagi-lagi, bentuk atap rumah adat Indonesia mencuri perhatian. Bentuk atapnya menyerupai perahu sebagai simbol bahwa nenek moyang masyarakat Toraja berlayar menggunakan perahu untuk sampai ke Sulawesi. Pada tiang utama rumah, akan dipasang kepala kerbau beserta tanduk-tanduknya untuk menandakan derajat keluarga. Semakin banyak tanduk, semakin tinggi pula derajatnya.

Terdapat tiga bagian dalam rumah Tongkonan ini, yakni Tengalok sebagai ruang tamu atau ruang tidur anak, Sumbung sebagai ruang untuk kepala keluarga dan Sali yang berfngsi untuk ruang makan, dapur dan pertemuan keluarga.

Rumah Honai

Berkunjung ke bagian timur Indonesia, Anda bisa menemukan Rumah Honai yang berasal dari Papua. Honai berasal dari dua kata yakni “hun” yang berarti pria dewasa dan “ai” yang bermakna rumah.

Bentuk dari rumah ini adalah bulat kerucut dengan atap yang terbuat dari jerami. Ukuran rumah ini juga tidak terlalu besar, biasanya hanya 2,5 hingga 5 meter saja. Hal ini ditujukan untuk meredam hawa dingin karena dalam satu rumah bisa ditinggali hingga 10 orang.

Uniknya, rumah Honai hanya boleh ditinggali oleh laki-laki karena rumah ini dianggap tempat sakral untuk mengajari para pemuda belajar tentang kehidupan, bagaimana dia bisa bertahan dan bertanggung jawab untuk kelompoknya. Selain digunakan sebagai tempat tinggal, Honai biasanya juga dijadikan sebagai tempat penyimpanan alat perang dan penyusunan strategi perang.

Sementara, rumah khusus wanita dinamai Ebai. Bentuknya mirip dengan Honai, tetapi lebih pendek dan kecil.

 

 

 

sumber : liputan6.com