Pelayan hingga Militer, Wanita yang jadi Istri dan Selir Raja Thailand Maha Vajiralongkorn

[Klikindonews.com], Raja Maha Vajiralongkorn atau secara resmi dikenal sebagai Raja Rama X, dimahkotai pada Mei 2019 lalu di Thailand.

Ia ditahbiskan hampir tiga tahun selang kematian sang ayah yang juga Raja Thailand, Bhumibol Adulyadej.

Keluarga Kerajaan Thailand sangat tertutup jika dibandiingkan Kerajaan Inggris yang selalu mendapat sorotan, seperti dilansir insider.com pada Rabu (23/10/2019).

Negara tersebut memiliki undang-undang ketat untuk melarang warga dan pers Thailand menghina serta melaporkan detil memalukan keluarga kerajaan.

Akibat pembatasan pers, informasi mengenai Maha Vajiralongkorn relatif sedikit. Berikut ini beberapa informasi terkait termasuk sejumlah wanita di pusaran sang raja Thailand, yang Liputan6.com rangkum dari sejumlah sumber.

Raja Thailand Maha Vajiralongkorn Bodindradebayavarangkun

Dikutip dari insider.com, Raja Maha Vajiralongkorn disebutkan lahir pada tahun 1952. Ia merupakan anak kedua dan satu-satunya anak laki-laki dari raja sebelumnya, yaitu Raja Bhumibol dan istrinya, Ratu Sirikit.

Ia dinobatkan sebagai Putra Mahkota pada tahun 1972 saat berusia 15 tahun. Namun dirinya menghabiskan sebagian masa kecilnya di luar Thailand.

Pria bernama lengkap Maha Vajiralongkorn Bodindradebayavarangkun itu bersekolah di Inggris dari usia 13 hingga 17 tahun. Hingga, akhirnya mendaftar di perguruan tinggi militer di Australia, Royal Military College dan lulus pada 1976.

Setelah lulus, ia bergabung dengan tentara Thailand. Ia bertugas sebagai perwira dan bekerja hampir sepanjang hidupnya. Ia merupakan seorang pilot yang memenuhi syarat untuk pesawat sipil dan militer. Bahkan, ia menerbangkan sendiri pesawat Boeing 737 ketika bepergian ke luar negeri.

Setelah ayahnya, Raja Bhumibol meninggal pada Oktober 2016, Maha Vajiralongkorn naik takhta sebagai Yang Mulia Raja Rama X. Namun, penobatannya terjadi tiga tahun kemudian, hal itu karena ia ingin Thailand berkabung dan menghargai lebih dulu Raja Thailand yang sebelumnya.

Proses penobatan Maha Vajiralongkorn dilaporkan menghabiskan biaya hingga 31 juta dolar atau sekitar 435 miliar rupiah. Maha Vajiralongkorn juga mengenakan mahkota dengan berlian India yang mencapai berat 7,3 kilogram.

Dalam hidupnya hingga saat ini, Raja Maha Vajiralongkorn sudah menikah empat kali, seperti dilansir bbc.com.

Istri Pertama dari Kalangan Darah Biru, Soamsawali Kitiyakara

Kisah cinta sang raja baru Thailand bermula pada awal 1970an. Saat itu ia menikahi istri pertamanya yang juga masih sepupunya sendiri.

Wanita berdarah biru yang dimaksud bernama Soamsawali Kitiyakara, keponakan Ratu Sirikit. Pernikahan Vajiralongkorn dan Soamsawali berawal dari perjodohan.

Sayangnya, pernikahan keduanya tidak mulus. Vajiralongkorn terlibat dalam skandal perselingkuhan dengan seorang aktris.

Bahtera pernikahan Maha Vajiralongkorn dengan Soamsawali kemudian kandas pada 1993. Meski demikian, Soamsawali tetap menjadi bagian dari kerajaan.

Sementara itu, hasil dari pernikahan keduanya diperoleh satu anak. Anak tersebut merupakan anak perempuan satu-satunya, Putri Bajrakitiyabha, seperti dilansir honey.nine.com.

Istri Kedua dari Kalangan Aktris, Sujarinee Vivacharawongse

Saat masih berstatus sebagai suami Soamsawali, Vajiralongkorn telah membina hubungan dengan Sujarinee Vivacharawongse yang merupakan seorang aktris.

Nama panggung perempuan cantik itu adalah Yuvadhida Suratsawadee Polpraserth dan sering berjuluk Benz.

Menurut Weekly Times, Maha Vajiralongkorn saat itu bahkan telah menjadi ayah dari lima anak di luar pernikahan.

Namun, kemudian sang raja menikahi Sujarinee sebagai istri kedua pada 1994 usai perceraiannya dengan istri sebelumnya. Saat itu, Putri Soamsawali dipindahkan ke tugas yang lebih kecil di dalam keluarga kerajaan.

Kisah pernikahan Vajiralongkorn dan Sujarinee tak berakhir lama. Pada 1996, sekitar tiga tahun setelah menikah, keduanya bercerai.

Istri Ketiga Adalah Pelayan Istana, Srirasmi Suwadee

Usai bercerai dengan Sujarinee, Maha Vajiralongkorn menikahi Srirasmi Suwadee pada 2001. Srirasmi adalah perempuan cantik yang telah menjadi pelayan pangeran sejak berumur 22 tahun.

Wanita kelahiran 9 Desember 1971 itu sempat mengenyam pendidikan di salah satu universitas negeri di Bangkok.

Pernikahannya dengan Vajiralongkorn bertahan cukup lama yakni hingga 2014. Keduanya sering terlihat bersama, bahkan dalam sebuah pesta ulang tahun anjing milik sang raja baru. Dalam pesta itu, Srirasmi disebut-sebut tampil telanjang.

Tak lama setelah perceraian, Srirasmi dilaporkan mengundurkan diri dari keluarga kerajaan Thailand dan kembali sebagai rakyat jelata.

Beberapa minggu sebelum perceraian, terjadi serangkaian penangkapan terhadap kerabat dekat Srirasmi. Mereka diduga terlibat korupsi, tampaknya mengisyaratkan bahwa perpisahan akan segera terjadi.

Pamannya, mantan kepala Biro Investigasi Pusat di Pongpat Chayapan, didakwa dengan korupsi termasuk dugaan pemerasan dan penyelundupan minyak, mengutip The Diplomat.

Sementara itu, tiga saudara lelakinya, Natthapol, Sitthisak, dan Narong, serta saudara perempuannya Sudathip juga dituduh mencemarkan nama baik monarki Thailand. Akibatnya, Vajiralongkorn meminta agar pemerintah menghapus nama keluarga yang diberikan kerajaan kepada keluarga istrinya, yakni Akkrapongpreecha.

Raja Bhumibol Adulyadej dilaporkan telah menawarkan 200 juta baht (sekira Rp 89 miliar) untuk mengkompensasi perceraian.

Sementara itu, Srirasmi harus meninggalkan anak satu-satunya, Pangeran Dipankorn Rasmichoti kepada Maha Vajiralongkorn.

Pangeran Dipankorn itu telah berangkat dari Bangkok pada 12 Desember 2014 ke Munich, dan akan bersekolah di sana. Saat ini, pangeran turut diasuh oleh Suthida Vajiralongkorn yang merupakan permaisuri raja Thailand, secara resmi menikah pada 2 Mei 2019.

Istri Keempat dari Kalangan Pejabat Militer, Suthida Tidjai

Raja Maha Vajiralongkorn menikahi Suthida Tidjai pada 1 Mei 2019. Suthida merupakan mantan komandan pejabat Royal Thai Aide-de-Camp Department, seperti dilansir honey.nine.com.

Sementara itu dikutip dari news.com.au, Suthida adalah teman baik dari Raja Maha Vajiralongkorn. Hubungan antara keduanya sudah lama berada di mata publik, hampir tiga tahun. Namun, antara keduanya tetap mengejutkan.

Mantan pramugari Thai Airways tersebut dilaporkan bertemu dengan raja dalam sebuah penerbangan. Kemudian, wanita berusia 41 tahun tersebut bergabung dengan penjaga istana pada 2013. Lalu, ia menjadi komandan unit keamanannya.

Namun, hingga saat ini pasangan tersebut tidak memiliki anak bersama.

Selir Raja dari Kalangan Militer, Sineenatra Wongvajirapakdi

Pada Juli 2019, Raja Vajiralongkorn menganugerahkan gelar “chao Khun Phra” atau permaisuri royal Noble pada Mayor Jenderal Sineenat Wongvajirapakdi, seperti dilansir honey.nine.com.

Dikutip dari news.com.au, Sineenat dikenal sebagai Koi di Thailand. Ia menjadi permaisuri/selir saat perayaan ulang tahun Raja Maha Vajiralongkorn ke-67.

Ia lahir pada 1985 di Provinsi Nan, Thailand bagian utara.

Sineenat Wongvajirapakdi memiliki gelar keperawatan. Tak hanya itu, ia juga sudah melampaui kursus “jungle welfare,” terbang tempur, serta kursus terjun payung.

Bahkan awal tahun ini istana merilis 60 foto dirinya. Mulai dari menggunakan pakaian kamuflase, menerbangkan pesawat jet, memegang tangan Raja, hingga foto saat tertawa.

Namun, pada Senin 21 Oktober 2019, istana mengeluarkan pernyataan dua halaman. Pernyataan menuduh Koi menolak untuk mematuhi raja. Serta, berusaha menggerogoti istri raja, Ratu Suthida.

Menurut pernyataan itu, Koi secara aktif berusaha menghalangi penunjukan Suthida sebagai Ratu dan justru seolah mengambil posisi tersebut untuk dirinya.

Karena itu, Raja kemudian mencoba menenangkannya dengan memberinya gelar permaisuri. Namun, nampaknya dia “masih belum puas” dan terus melakukan segala yang dia bisa “untuk menjadi setara dengan sang ratu”.

Menurut Istana, Sineenat memerintahkan orang-orang di sekitar, berusaha “mendapatkan keuntungan dan popularitas”, serta perhatian Raja.

“(Tindakannya) dianggap tidak terhormat, kurang berterima kasih, tidak menghargai kebaikan kerajaan, dan mendorong keretakan di antara para pelayan kerajaan, membuat kesalahpahaman di antara orang-orang, dan merusak bangsa dan monarki,” kata Istana dalam pernyataan.

Tak lama setelah pencopotan yang cepat, tagar #SaveKoi mulai tren di Twitter.

Sementara itu, di Thailand, orang dapat menghadapi 15 tahun penjara karena menghina monarki atau merusak citra raja dan keluarganya. Itu bahkan termasuk menghancurkan uang kertas bertuliskan gambar Raja.

 

 

 

sumber : liputan6.com