Natuna Diincar Asing, Ini Potensi Ikan dengan Nilai Ekspor Fantastis

[Klikindonews.com], Laut Natuna di Provinsi Kepulaun Riau diakui China sebagai perairan dimiliki negaranya. Dasar pemikiran itu menjadi alasan China menggiring nelayannya dengan pengawalan angkatan laut, masuk ke laut Natuna. Sikap China ini menjadi polemik.

Natuna memang wilayah perairan strategis karena berbatasan dengan beberapa negara. Namun mengacu pada aturan internasional United Nations Convention on the Law of the sea (UNCLOS), perairan Natuna merupakan wilayah Indonesia. Dengan demikian semua sumber alam yang ada di Natuna, seluruhnya dimiliki Indonesia.

Menyikapi hal di atas, Rabu (8/1/2020) Presiden Joko Widodo dan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mendatangi Natuna. Beserta menteri lainnya, Edhy mendatangi Sentra Kelautan Perikanan Terpadu (SKPT) untuk menemui para nelayan di Natuna. Di sana Presiden menegaskan bahwa Natuna adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ketika Presiden Jokowi Temui Ratusan Nelayan di Natuna

Berdasarkan data yang dikutip Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kamis (9/1/2020), Natuna memang surganya perairan Indonesia karena banyaknya ikan yang berpotensi ekspor dengan nilai yang fantastis.

Seperti kerapu hasil pembudidayaan, 6.720 kg ikan diekspor ke Hong Kong, dengan nilai ekspor mencapai USD100.314 atau Rp1,45 miliar pada September 2018. Harga ikan kerapu berbagai jenis, masing-masing kerapu hybrid Rp85.000 per kg, ikan kerapu tikus Rp800.000 per kg, dan kerapu sunu senilai Rp350.000 per kg.

Tak hanya itu, ikan napoleon juga diekspor ke Hong Kong. Pemerintah menetapkan kuota ekspor sebanyak 40 ribu ekor dengan ukuran lebih dari 1 kg hingga mencapai 3 kg per ekor, masing-masing untuk kuota Natuna sebanyak 30 ribu ekor dan Kepulauan Anambas sebanyak 10 ribu ekor.

Selain itu, Perairan Natuna juga memiliki lobster yang memiliki nilai ekspor yang tinggi. Bahkan, pada saat Susi Pudjiastuti menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan pernah melepaskan 235.900 benih lobster jenis pasir dan 10.773 benih lobster jenis mutiara di Perairan Natuta pada April 2019.

Sejak 2016, KKP membangun SKPT Natuna dengan nilai investasi Rp112,2 miliar. SKPT yang resmi beroperasi pada 1 Juni 2017 itu dibangun agar kapal ikan yang beroperasi di perairan Natuna dapat menjual ikannya di sana. Menurut data, potensi perikanan di Natuna mencapai 1.143.341 ton.

 

 

 

sumber : okezone.com