Raja Belgia Ungkapkan Penyesalan Pernah Jajah Republik Demokratik Kongo

[Klikindonews.com], – Raja Belgia Philippe mengungkapkan “penyesalan terdalam”-nya kepada Republik Demokratik Kongo (RDK) atas penjajahan kolonial negaranya di masa lalu.

Raja mengungkapkan hal tersebut dalam sebuah surat yang dikirimkan ke Presiden RDK, Felix Tshisekedi pada perayaan 60 tahun kemerdekaan negara di Afrika Tengah itu. Demikian dilansir dari BBC, Rabu (1/7).

Jutaan warga Afrika tewas selama penjajahan kolonial Belgia yang berdarah.

Ada fokus baru pada sejarah bangsa Eropa setelah kematian George Floyd di Amerika Serikat yang disusul unjuk rasa gerakan Black Lives Matter.

Dalam beberapa pekan terakhir, ribuan warga Belgia turun ke jalan dan berunjuk rasa menentang kekerasan rasial. Patung pemimpin kolonial Belgia, Raja Leopold II dirusak. Pihak berwenang di Antwerpen kemudian memindahkan patung tersebut dari lapangan umum.

Lebih dari 10 juta orang Afrika diperkirakan tewas pada masa pemerintahan Raja Leopold II. Raja Philippe adalah keturunan penguasa abad ke-19 itu.

Tak Ada Permintaan Maaf

permintaan maaf

Ini adalah pertama kalinya seorang Raja Belgia secara formal menyatakan penyesalan atas apa yang terjadi selama pemerintahan kolonial negaranya. Namun dalam pernyataan itu tak ada permintaan maaf.

Dalam sebuah surat yang dikirimkan kepada Presiden Tshisekedi dan dipublikasikan di media Belgia, Raja Philippe memuji “kemitraan istimewa” antara kedua negara saat ini.

Namun dia mengatakan ada “episode menyakitkan” dalam sejarah mereka, termasuk pada masa pemerintahan Raja Leopold II – yang tidak secara langsung dia sebutkan namanya – dan pada abad ke-20.

“Saya ingin mengungkapkan penyesalan terdalam saya atas luka masa lalu ini, rasa sakit yang sekarang dihidupkan kembali oleh diskriminasi yang masih ada di masyarakat kita,” tulis Raja Philippe.

“Saya akan terus melawan segala bentuk rasisme. Saya mendorong refleksi yang telah diprakarsai oleh parlemen kita sehingga ingatan kita benar-benar tenang.”

Sama seperti Inggris, Belgia adalah monarki konstitusional – yang berarti pernyataan Raja Philippe sejalan dengan pemerintah Perdana Menteri Sophie Wilmes.

Awal bulan ini, saudara Raja Philippe, Pangeran Laurent, membela Leopold II.

“Dia tidak pernah pergi ke (RDK) sendiri,” kata sang pangeran dalam sebuah wawancara.

“Saya tidak mengerti bagaimana bisa dia membuat orang di sana menderita.”

Namun Pangeran Laurent menambahkan, setiap kali dia bertemu dengan kepala negara Afrika, dia selalu meminta maaf “atas tindakan yang dilakukan orang Eropa terhadap orang Afrika pada umumnya”.

Sejarah Kolonialisme Eropa

Pada abad ke-19, kekuatan-kekuatan Eropa mulai menguasai sebagian besar Afrika dengan tujuan eksploitasi kolonial.

Raja Leopold II menguasai wilayah luas di sekitar lembah sungai Kongo – yang kemudian dikenal sebagai Negara Merdeka Kongo.

Negara ini ada dari tahun 1885 hingga 1908. Selama periode ini, lebih dari 10 juta orang Afrika diperkirakan telah meninggal karena penyakit, kekerasan kolonial, dan saat bekerja untuk raja di perkebunan.

Pihak berwenang akan memotong anggota tubuh orang yang diperbudak ketika mereka tidak memenuhi kuota bahan seperti karet yang diminta raja.

Keadaan menjadi begitu mengerikan di negara-negara lain dan mengutuk kekejaman tersebut. Raja Leopold II menyerahkan kontrol langsung pada tahun 1908, dan Belgia secara resmi menganeksasi negara itu, menamainya Kongo Belgia.

Penjajah terus memanfaatkan orang Afrika sebagai buruh upahan dan mencoba mengubahnya menjadi “model koloni”. Perlawanan yang meluas akhirnya menyebabkan negara itu memenangkan kemerdekaannya pada tahun 1960.

 

 

sumber : merdeka.com