Cerita tentang Gagapnya Menangani Pasien Corona

[Klikindonews.com], Ahad (15/3) pagi. Putri baru mengetahui kalau ia ternyata melakukan kontak dekat dengan salah satu pasien positif. Putri pun langsung berinisiatif memeriksakan diri.

Tak lama memang interaksi antara Putri dan pasien positif corona. Mungkin hanya kurang dari lima menit. Namun, interaksinya cukup dekat, tak kurang dari setengah meter.

Apalagi, dalam sepekan Putri merasa kondisi kesehatannya kurang baik. Kadang meriang, pusing, dan batuk ringan. Orang biasanya menyebut masuk angin saja.

Bergegaslah ia dan suaminya ke rumah sakit rujukan pemerintah yang mampu menangani virus corona. Awalnya, keduanya hendak menuju RS Persahabatan. Namun, menurut informasi yang diterima, rumah sakit tersebut tutup pada Ahad. Kduanya pun beralih ke RS rujukan yang lebih dekat dari tempat tinggal, yakni RSUD Pasar Minggu.

Putri dan suaminya tiba di RSUD Pasar Minggu sekitar pukul 09.00 WIB. Ia langsung mencari posko di rumah sakit yang dapat menangani langsung keluhan gejala Covid-19. Namun, tak ada.

Lantai 1 yang biasanya digunakan sebagai layanan pendaftaran pun tampak kosong, sepi. Hanya ada beberapa orang yang mengantre di salah satu tempat apotek rumah sakit tersebut.

Tak menyerah, Putri dan suaminya langsung menuju ke IGD. Pasien yang mengantre di ruang pendaftaran IGD cukup banyak. Suami Putri langsung menuju ke salah satu petugas medis untuk menyampaikan keluhan Putri dalam beberapa hari terakhir.

Pertanyaan diajukan ke Putri. “Apa yang dikeluhkan? Pernah kontak dengan pasien positif corona? Kapan melakukan kontak?”

Putri menjawab dengan detail tiap pertanyaan itu. Tak butuh waktu lama, ia langsung diminta untuk masuk ke dalam sebuah kamar isolasi di ruangan IGD. Kamar berukuran sekitar 3 x 4 itu hanya berisi dua tempat tidur. Satu tempat tidur lainnya sudah ditempati oleh seorang pria berusia sekitar 42 tahun.

Ruangan tersebut tak sepenuhnya dibatasi dengan tembok, tetapi dibatasi kaca tebal sehingga pasien yang berada di dalam kamar isolasi tak akan bisa melakukan komunikasi dengan keluarga yang berada di luar ruangan.

Satu orang pria yang sudah terlebih dahulu berada di kamar isolasi ini tampak menggunakan alat bantu pernapasan. Ia sudah berada di dalam kamar isolasi tersebut sejak malam sebelumnya. Ia disebut sudah berstatus PDP atau pasien dalam pengawasan.

Putri sempat heran, mengapa ia ditempatkan di sebuah ruangan isolasi bersama seorang pasien PDP virus corona, padahal ia belum sempat diperiksa oleh tim medis. Putri khawatir jika hasil pasien PDP tersebut nantinya dinyatakan positif sebagai pasien corona, akan sangat mungkin justru Putri terpapar dengan virus tersebut.

Beberapa jam kemudian, Putri menjalani pemeriksaan darah dan juga toraks. Selang sekitar satu jam, seorang perempuan muda dan disusul oleh seorang laki-laki juga ditempatkan di ruangan isolasi tersebut, menjadikan total empat orang yang ditempatkan di satu kamar isolasi.

Menurut laki-laki yang baru saja masuk itu, sebut saja pasien A, ia sempat sesak napas dan baru saja mengunjungi Provinsi Bali. Ia dan pasien wanita lainnya pun juga kemudian melakukan tes darah maupun toraks. Sekitar empat jam kemudian, Putri dan pasien A dinyatakan sebagai suspect virus corona.

Namun, hasil tes darah dan toraks keduanya dinyatakan sehat. Selama menunggu pemeriksaan selanjutnya, yakni tes swab untuk mengambil sampel spesimen lendir di saluran pernapasan dan rongga mulut, seluruh pasien yang saat itu dinyatakan sebagai pasien PDP masih bisa keluar ruangan, seperti ke toilet. Sebab, di kamar isolasi IGD tersebut tak disediakan toilet sendiri.

Jadi, bisa dibayangkan bagaimana jika ada pasien PDP yang ternyata positif terinfeksi virus corona, tetapi masih bisa mondar mandir di ruangan IGD, di mana banyak pasien yang juga dirawat di ruangan terbuka.

Sekitar pukul 13.30 WIB, tes swab dilakukan terhadap empat pasien yang berada di kamar isolasi ruang IGD. Namun, hasil tes swab masih harus menunggu sekitar 2-3 hari lagi. Artinya, selama hasil tes swab belum keluar, seluruh pasien yang dikategorikan sebagai PDP suspect tidak diperbolehkan pulang ke rumah. Begitu menurut dokter yang menangani.

Semakin malam, pasien yang masuk ke dalam kamar isolasi semakin bertambah. Sempat ada seorang wanita di dalam kamar tersebut yang sudah diizinkan pulang. Hingga malam hari, total ada enam pasien di kamar isolasi. Semuanya dinyatakan berstatus PDP.

Semakin bertambahnya pasien yang masuk, kamar isolasi pun semakin penuh dan sesak. Dua pasien dirawat di tempat tidur, sementara empat pasien lainnya harus menunggu di kursi roda selama berjam-jam. Bukan kondisi yang ideal dan layak untuk pasien diduga terpapar corona untuk beristirahat atau sekadar menunggu hasil tes.

Mereka kelelahan, dengan kondisi kesehatan yang beragam. Ada yang batuk terus-menerus, ada yang harus mengenakan selang oksigen. Kondisi ini pun membuat psikologis beberapa pasien terganggu. Apalagi, beberapa pasien juga mengaku tak mendapatkan informasi yang pasti terkait tindakan selanjutnya dari tim medis. Berapa lama pasien harus menunggu dipindahkan ke kamar isolasi atau tindakan medis apa lagi yang harus ditempuh.

Pihak rumah sakit hanya mengatakan kamar isolasi masih penuh sehingga harus dicarikan kamar di rumah sakit rujukan lainnya. Untuk menunggu kepastian kamar isolasi pun juga sangat lama. Bahkan, ada seorang pasien lainnya yang harus menunggu hingga hampir dua hari untuk mendapatkan kamar isolasi di rumah sakit rujukan.

Putri dan sejumlah pasien lainnya meminta agar mendapatkan perawatan di rumah saja. Alasannya, mereka tak mendapatkan penanganan yang layak selama berada di kamar isolasi ruang IGD dan hasil tes laboratorium mereka dalam kondisi sehat dan baik. Dalam hati Putri, alih-alih sembuh, malah terpapar di kamar isolasi.

Namun, pihak rumah sakit menolak mereka pulang. “Saya telepon dokternya, sangat direkomendasikan untuk isolasi. Tapi, katanya boleh pulang asal harus tanda tangan surat pernyataan dengan segala risikonya tidak ditanggung oleh rumah sakit. Masalahnya, kalau begini terus enggak jelas, lama-lama saya stres dan malah terpapar dari pasien lainnya,” kata Putri.

Putri mengatakan, ia bersama pasien A kemudian mendapatkan kamar isolasi di rumah sakit rujukan pada petang hari. Proses pemindahan keduanya harus menunggu ambulans yang saat itu tengah digunakan untuk mengantar pasien lainnya.

photo

Pasien menunggu di ruang isolasi corona di unit IGD RSUD Pasar Minggu, Jaksel. – (dok Republika)

Pasien Positif Corona

Menurut penuturan Putri, selama dirawat di ruangan isolasi tersebut, ia diperlakukan layaknya pasien positif corona. Padahal, hasil tes darah dan toraks menunjukan dirinya sehat dan tak ada masalah.

Setiap petugas medis yang berkunjung ke kamar isolasi atau berinteraksi dengan salah satu pasien selalu dilengkapi alat pelindung diri (APD). Saat pasien akan dipindahkan ke rumah sakit rujukan di RS Fatmawati, pihak rumah sakit pun tampak mengosongkan seluruh lorong yang akan dilewati oleh Putri.

“Semuanya menjauh, seakan-akan saya membawa virus menular. Bahkan, ada yang memvideo saat petugas membawa saya ke ambulans. Padahal, seluruh hasil tes saya baik-baik saja, tapi tes swab memang belum keluar hasilnya,” ujar Putri.

Perlakuan yang sama dari tim medis juga dirasakan Putri saat tiba di RS Fatmawati pada dini hari berikutnya. Saat tiba, ia mengaku masih melihat ada petugas rumah sakit yang justru memvideo proses pemindahannya. “Entah mau disebarkan atau mau buat apa itu video. Padahal, RS kan harus melindungi privasi pasien,” katanya berkeluh.

Di rumah sakit rujukan ini, atau RS Fatmawati, Putri dan pasien A mendapatkan kamar isolasi. Kamar tersebut berukuran sangat luas, dengan enam tempat tidur. Antar tempat tidur berjarak sekitar dua meter. Namun, karena hanya terdapat tiga pasien di ruangan isolasi itu, tiap pasien ditempatkan di tempat tidur dengan jarak sekitar empat meter.

Pasien yang ditempatkan di kamar ini seluruhnya merupakan pasien kategori PDP. Di kamar ini, Putri merasa lebih nyaman daripada di kamar isolasi sebelumnya. Kondisi kamar isolasi ini dinilainya berpengaruh terhadap kondisi psikologisnya.

Terlihat jelas bahwa kamar isolasi ini memang baru saja disiapkan oleh pihak rumah sakit. Saat siang, kamar terasa panas. Meskipun terdapat AC, pendingin itu tidak cukup membantu. Beberapa kipas angin juga tampak terpasang.

Sejak ia dan pasien A tiba di rumah sakit rujukan ini, keduanya belum mendapatkan pemeriksaan kembali dari dokter setempat. Yang keduanya dapatkan hanyalah infus sejak di RSUD sebelumnya dan makanan ala rumah sakit.

Putri memahami hingga kini memang belum ditemukan obat dari virus corona ini. Karena itu, cara terbaik berikutnya adalah melakukan isolasi sembari meningkatkan daya tahan tubuh.

“Mereka mungkin hanya ingin memisahkan saya dengan masyarakat lainnya agar saya tidak menularkan virus meskipun saya juga belum dinyatakan positif. Hingga saat ini saya masih baik-baik saja,” kata dia.

Dokter spesialis paru-paru baru mulai melakukan kunjungan ke pasien PDP pada sore hari, sekitar pukul 16.00 WIB. Kepada Putri, dokter menjelaskan bahwa hasil rontgen toraks menunjukkan adanya sedikit flek.

Namun, untuk memastikan kembali, dokter meminta agar dilakukan foto toraks yang kemudian dinyatakan bahwa Putri dan pasien A dapat melakukan isolasi diri secara mandiri di rumah selama 14 hari.

Artinya, pada Senin dini hari itu, Putri bisa langsung segera kembali pulang. Status Putri lalu turun menjadi orang dalam pengawasan (ODP) dari sebelumnya PDP. Tak ada penjelasan lebih lanjut dari dokter mengenai hasil pemeriksaan. Keduanya mengaku hanya mendapatkan informasi bisa kembali pulang sambil menunggu hasil tes swab.

Pasien yang dikategorikan sebagai PDP belum tentu positif terjangkit virus corona. Masih ada kemungkinan pasien tersebut negatif dari virus ini. Karena itu, Putri berharap pemerintah dapat menyiapkan layanan rumah sakit yang lebih baik lagi untuk menangani pasien dengan keluhan seperti gejala virus corona.

 

 

Sumber : republika.co.id