Jaringan Uni Eropa Diretas Selama Bertahun-tahun

[Klikindonews.com] NEW YORK, — Surat kabar Amerika Serikat (AS) New York Times mempublikasikan laporan tentang jaringan Uni Eropa yang telah direntas selama bertahun-tahun. Para peretas mengunduh kawat diplomatik rahasia yang salah satunya berisi kekhawatiran Uni Eropa terhadap pemerintahan Donald Trump.

Dalam kawat-kawat diplomatik yang diunduh para peretas tersebut juga menggambarkan Uni Eropa yang kesulitan membuat kesepakatan dengan Rusia dan Cina serta khawatir Iran akan kembali menjalankan program nuklir mereka. New York Times mengatakan mereka menerima lebih dari 1.100 kawat diplomatik dari perusahaan keamanan Area 1.

Para penyidik dari Area 1 yakin pelanggaran ini dilakukan para perentas yang bekerja untuk Pasukan Pembebas Rakyat Cina atau China People Liberation Army. Kawat-kawat diplomatik juga berisi tentang percakapan dengan pemimpin-pemimpin Arab Saudi, Israel dan beberapa negara lainnya.

Area 1 mengatakan teknik yang digunakan para peretas selama tiga tahun ini sama seperti teknik yang digunakan tim elit tentara Cina. Kawat-kawat diplomatik itu disalin dari jaringan yang privat dan diunggah ke situs internet terbuka yang dibuat oleh para peretas.

“Mengungkapkan rasa lapar para peretas untuk menyapu (seluruh informasi) bahkan sampai rincian negosiasi internasional yang paling tidak jelas,” tulis New York Times dalam laporan mereka.

Salah satu kawat menyebutkan para diplomat-diplomat Uni Eropa menggambarkan pertemuan antara Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Finlandia berjalan ‘sukses’ (setidaknya bagi Putin). Kawat diplomatik pada bulan Maret mengungkapkan kepala deputi Uni Eropa untuk AS, Caroline Vicini meminta para diplomat untuk bekerja di sekitar Trump agar berhubungan langsung dengan Kongres.

Vicini juga menyarankan diplomat-diplomat perdagangan menyebut AS sebagai ‘mitra terpenting kami’. Meski di beberapa hal Uni Eropa tidak sepakat dengan pemerintahan Trump seperti isu perubahan iklim, perdagangan dan kesepakatan nuklir Iran.

Kawat diplomatik yang ditulis usai pertemuan pada 16 Juli berisi analisis dan laporan detail tentang pembicaraan antara pejabat Uni Eropa dengan Presiden Cina Xi Jinping. Dalam laporan tersebut tercantum kata-kata Xi yang mengatakan ‘perundungan’ yang dilakukan Trump terhadap Cina seperti ‘pertandingan tinju tanpa aturan’.

Tidak hanya Uni Eropa para peretas juga masuk jaringan beberapa organisasi dunia lainnya. Seperti PBB, American Federation of Labor and Congress of Industrial Organizations (AFL-CIO) serta kementerian luar negeri dan keuangan di seluruh dunia.

“Peretasan AFL-CIO fokus pada isu negosiasi atas kesepakatan perdagangan Kemitraan Trans-Pasifik (Trans-Pacific Partnership) yang mana Beijing tidak masuk di dalamnya,” tambah New York Times.

Materi-materi yang diretas dari PBB kebanyakan diambil pada tahun 2016 di saat Korea Utara sedang aktif melancarkan uji coba rudal nuklir mereka. Termasuk pertemuan pribadi sekretaris jenderal PBB dan para deputinya dengan pemimpin-pemimpin negara Asia.

Sekitar lebih dari 100 organisasi dan institusi menjadi target selama bertahun-tahun. Tapi banyak dari mereka yang tidak menyadarinya sampai akhirnya beberapa hari lalu pelanggaran ini ditemukan Area 1. Perusahaan keamanan tersebut didirikan tiga mantan pejabat Badan Keamanan Nasional AS.

Kawat-kawat diplomatik ini juga berisi laporan panjang diplomat-diplomat Eropa tentang pergerakan Rusia dalam menyerang Ukraina. Termasuk peringatan Krimea yang diduduki Rusia empat tahun lalu telah menjadi ‘zona panas di mana hulu ledak nuklir mungkin sudah dipasang’ di sana. Pejabat-pejabat Amerika mengatakan mereka tidak menemukan bukti ada hulu ledak nuklir di Krimea.

Diplomat-diplomat Eropa mencatat pertemuan pribadi mereka dengan Xi Jingpin yang digelar pada bulan Juli lalu. Dimana presiden Cina tersebut bersumpah tidak akan membiarkan gertakan Amerika mempengaruhi negaranya meski perang dagang akan berimbas pada semua pihak.

“Cina bukan negara terbelakang lagi,” kata Xi dalam catatan para diplomat Eropa.

Dalam pembicaraan mereka dengan pejabat-pejabat AS usai pertemuan di Helsinki pada bulan Juli lalu, diplomat-diplomat Uni Eropa menduga Gedung Putih berusaha mengurangi dampak buruk keputusan Trump mendukung beberapa sikap Putin. Salah satunya memperbolehkan Rusia menginterogasi mantan diplomat-diplomat Amerika.

Sebagai gantinya AS boleh menginterogasi pejabat-pejabat Rusia yang didakwa oleh Jaksa Khusus Robert Mueller. Dokumen yang bertanggal 20 Juli menggambarkan secara rinci pertukaran tersebut. Gedung Putih berusaha menyakinkan Uni Eropa kesepakatan yang dibuat Trump akan ‘dibatalkan’ untuk mencegah ada warga Amerika yang diinterogasi Rusia.

Pada kawat diplomatik yang bertanggal 7 Maret terangkum sulitnya hubungan Amerika dengan Uni Eropa sejak Donald Trump berkuasa. Di dalamnya pejabat tinggi Eropa di Washington berbicara tentang ‘upaya mengirim pesan’ untuk mengakhiri sikap negatif Trump yang diarahkan ke Uni Eropa sejak awal pemerintahnya yang telah menyebabkan banyak ketidaknyamanan.

Meski sudah menyatakan akan menyelidiki dugaan kebocoran ini tapi sekretariat Uni Eropa tidak mau memberi komentar tentang isi kawat-kawat diplomatik yang bocor ini. Harta karun kawat-kawat diplomatik ini seperti ketika WikiLeaks membocorkan 250 ribu kawat diplomati Kementerian Luar Negeri pada tahun 2010 lalu.

Tapi kawat-kawat diplomatik Uni Eropa ini tidak seluas dan sedalam kawat diplomatik yang dibocorkan WikiLeaks. WikiLeaks dapat mengakses berbagai dokumen yang berlebel terbatas dan rahasia.

Pejabat Uni Eropa mengatakan komunikasi-komunikasi rahasia termasuk komunikasi dengan level ‘sangat rahasia’ di simpan di sistem yang terpisah. Sistem itu sedang diperbaharui dan diganti. Kawat diplomatik yang fokus membahas percakapan negara-negara maju tentang perjanjian nuklir Iran pada tahun 2015 juga disimpan di sistem yang berbeda.

Seorang ahli spionase yang tidak disebutkan namanya mengatakan kasus ini tidak seperti ketika WikiLeaks membocorkan kawat diplomatik Kementerian Luar Negeri AS atau Rusia meretas Komite Nasional Partai Demokrat pada tahun 2016. Di mana dalam dua kasus tersebut para peretas memang berniat mempublikasikan dokumen-dokumen rahasia. Serangan siber terhadap Uni Eropa ini murni tindakan spionase.

Kasus ini juga menunjukan betapa buruknya perlindungan jalur komunikasi antara negara-negara di Uni Eropa. Kebocoran yang terjadi selama bertahun-tahun ini, menurut ahli spionase tersebut, telah mempermalukan pemerintahan seluruh dunia.