Usut Korupsi Bansos Corona, KPK Periksa Pejabat Pemkab Bandung Barat

[Klikindonews.com] JAKARTA, – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengagendakan pemeriksaan terhadap sejumlah pejabat pada Pemkab Bandung Barat, hari ini, Kamis (22/7/2021). Para pejabat Pemkab Bandung Barat tersebut yakni, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Riki Riadi; Kabag Pengadaan Barang Jasa, Ir Anni Roslianti; serta Kasi Pemeliharaan Jalan dan Jembatan PUPR, Chandra Kusuma Wijaya.

Mereka bakal diperiksa dalam kapasitasnya sebagai saksi terkait kasus dugaan korupsi pengadaan barang tanggap darurat bencana pandemi Covid 19 pada Dinsos Pemkab Bandung Barat tahun 2020. Pemeriksaan rencananya dilakukan di Kantor Pemkab Bandung Barat.

“Bertempat di Kantor Pemkab Bandung Barat, tim penyidik mengagendakan pemanggilan saksi-saksi untuk tersangka AUM (Aa Umbara Sutisna) dkk tersebut,” kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri melalui pesan singkatnya, Kamis (22/7/2021).

Tak hanya para pejabat tersebut, penyidik juga memanggil sejumlah saksi lainnya yakni, Karyawan Honorer pada Sekretariat DPRD Kabupaten Bandung Barat, Ajeng Dahlia; Direktur Utama PT Jagat Dirgantara, Asep Cahyadinata; serta Direktur CV Satria Jakatamilung, Asep Saepudin.

Sebelumnya, KPK resmi menetapkan Bupati non-aktif Bandung Barat, Aa Umbara Sutisna (AUM) dan anaknya, Andri Wibawa (AW) selaku pihak swasta sebagai tersangka kasus dugaan korupsi terkait pengadaan paket bahan pangan (sembako) untuk penanggulangan pandemi Covid-19.

Tak hanya anak dan ayah tersebut, KPK juga menetapkan pemilik PT Jagat Dir Gantara (PT JDG) dan CV Sentral Sayuran Garden City Lembang (SSGCL) M Totoh Gunawan (MTG) sebagai tersangka dalam kasus ini. Para tersangka tersebut diduga total menerima keuntungan Rp5,7 miliar dari korupsi tersebut.

Dalam perkara ini, Aa Umbara Sutisna diduga menerima uang sebesar Rp1 miliar terkait pengadaan paket bahan pangan sembako untuk penanggulangan Covid-19 di Bandung Barat. Sedangkan Andri Wibawa, diduga menerima keuntungan sebesar Rp2,7 miliar. Sementara M Totoh Gunawan diduga menerima Rp2 miliar.

 

sumber : okezone.com