White Tea, Teh Putih Premium Indonesia Tinggi Antioksidan

[Klikindonews.com], — Sama seperti kopi yang punya produk premium, teh juga ternyata punya produk eksklusif. Termasuk juga teh lokal.

Di Indonesia, popularitas teh mungkin kalah saing dibanding dengan kopi. Menjamurnya berbagai kedai kopi di berbagai sudut kota besar di Indonesia, makin menihilkan peran minum teh.

Jika kopi punya luwak yang dianggap ‘premium’ dengan harga selangit, teh punya white tea, si ‘teh putih’ yang paling bergengsi di dunia teh.
Apa itu white tea atau teh putih?

Penggemar teh mungkin sudah tidak asing dengan white tea. Sesuai dengan namanya, seduhan white tea berwarna putih pucat, kadang kekuningan, bergantung pada lama proses penyeduhan.

Proses pembuatan daun teh pada jenis white tea hanya menggunakan pucuk teh. Biasanya hanya dua daun teh teratas yang akan dipakai untuk pembuatan white tea, pucuk teh yang masih menggulung akan lebih baik untuk menghasikan teh yang enak.

Karena hanya menggunakan pucuk teh, kandungan antioksidan white tea jadi yang paling tinggi dibanding jenis teh lainnya. Pembuatan white tea juga hanya dipanaskan dengan suhu maksimal 100 derajat celcius hingga kandungan antioksidannya tak banyak berkurang.

Kepala Pusat Studi Biofarmaka Tropika dari LPPM IPB, Irmanida Batubara mengatakan, white tea punya kandungan antioksidan hingga 16 persen. Rata-rata teh di Indonesia memang punya kandungan antioksidan yang tinggi, mencapai 13 persen walaupun teh tersebut dicampur dengan batang daun. Berbeda dengan teh impor yang kandungan antioksidannya hanya 5-8 persen.

“Di Indonesia ada jenis white tea, kandungan antioksidannya paling tinggi dibanding teh lainnya, mencapai 16 persen. Kenapa tinggi? karena dia hanya pakai pucuk teh.

Daun teh itu, semakin dia pucuknya semakin tinggi kandungan antioksidannya, makin ke bawah dia makin rendah,” kata Irma dalam sebuah diskusi virtual, beberapa waktu lalu.

Tak heran, white tea jadi teh premium Indonesia. Bahkan white tea asal Indonesia sudah diimpor hingga negara-negara Eropa.

Namun meskipun punya label teh premium, white tea sebetulnya masih cukup terjangkau di saku. Harga 50 gram white tea di pasaran berkisar antara Rp100 ribu-Rp150 ribu. Sementara untuk menyeduh white tea hanya dibutuhkan sebanyak 2 gram teh, artinya per gelas teh Anda hanya menghabiskan kira-kira Rp2.500-Rp3.500.

Pencinta teh sekaligus Ahli Riset Perkebunan Nusantara- Rohayati Suprihatini mengatakan, white tea bisa diseduh hingga tiga kali menggunakan air panas 70-80 derajat. Seduhan pertama dan kedua tidak akan mengurangi wangi dan rasa teh putih yang agak manis.Namun rasa teh akan sedikit pahit pada seduhan ketiga.

“Jadi setelah diseduh pertama, bisa disimpan bekas tehnya untuk diseduh lagi hingga tiga kali. Kalau masih ‘sayang’ sama white tea bisa dijadikan scrub wajah untuk cuci muka, biar wajah halus dan cerah,” kata Rohayati.

Kurang sosialisasi

Pernah dengar white tea atau teh putih? Indonesia juga punya white tea lokal yang premium. Tapi apa itu white tea?

Ilustrasi teh putih. (iStockphoto/ LICreate)

Kandungan teh putih sudah terbukti banyak memiliki manfaat bagi tubuh. Antioksidan sendiri sudah dikenal sebagai zat anti kanker, beberapa penelitian juga menunjukkan teh dapat mencegah penuaan dini.

Teh premium ini juga ramah di saku, tak seperti harga kopi luwak yang bisa dijual hingga jutaan per 100 gram. Tapi mengapa white tea masih kalah pamor jika dibanding kopi?

Ketua Umum Dewan Teh Indonesia Rachmad Gunadi mengatakan, popularitas teh masih kalah saing jika dibandingkan dengan kopi. Sebab kopi sudah lebih dulu melakukan sosialisasi ke masyarakat.

“Teh ini telat sosialisasi, tapi enggak bisa juga sosialisasi teh pakai ‘cara kopi’, sosialisasi teh pakai cara kopi ini pernah dipakai di sebuah kedai kopi mewah yang simbolnya hijau itu, tapi gagal,” kata Rachmad.

Peminum teh juga makin menurun seiring dengan menjamurnya kedai kopi di Indonesia. Meski sudah punya jenis premium white tea, masyarakat Indonesia masih belum bisa move on dari kopi.

Belum lagi, dengan menjamurnya kedai kopi maka tiap orang bisa dengan mudah membeli kopi. Berbeda dengan teh yang kedainya masih sedikit, bahkan kedai teh lebih sering terkesan ‘eksklusif’ di beberapa tempat.

“Rendahnya peminum teh ini menyebabkan produksi kita turun, apalagi white tea yang hanya ambil pucuk teh, dia sedikit sekali tiap produksi,” kata Rachmad.

Cara membranding teh yang paling tepat menurut Rachmad adalah dengan mensosialisasikan rasa teh terbaik, baru manfaatnya. Menurutnya, orang Indonesia akan lebih memilih makanan atau minuman yang rasanya nikmat, meskipun kandungan manfaatnya tak banyak.

White tea, menurutnya sangat cocok untuk mengenalkan kembali teh agar terus populer. White tea memiliki rasa yang agak manis, cukup terjangkau untuk teh kelas premium, dan memiliki segudang manfaat.

“Makanya kami mulai coba ubah ajakan ‘ngopi’ jadi ‘ngeteh’ biar orang-orang makin banyak yang nongkrong, ngumpul, itu minumnya teh, enggak cuman kopi,” tuturnya.

 

Sumber : cnnindonesia.com